Home > Perkuliahan > Mau tahu sistem belajar di Perguruan Tinggi ?

Mau tahu sistem belajar di Perguruan Tinggi ?

Supaya seorang mahasiswa sukses dalam belajar di Perguruan Tinggi sehingga dapat menyelesaikan studi sesuai waktu yang sudah direncanakan, maka harus mengetahui sistem belajar, yang menyangkut beberapa aspek antara lain : periode belajar, beban atau bobot belajar, rencana belajar, evaluasi belajar, hasil belajar, dan batas masa studi.

Sehingga dengan memahami sistem belajar, diharapkan seorang mahasiswa dapat mengatur strategi dalam mencapai tujuannya.

Belajar atau kuliah di Perguruan Tinggi dilaksanakan dengan suatu sistem, agar tujuan belajar dapat dilaksanakan secara efisien.

Di dalam sistem belajar, masa belajar dibagi ke dalam periode belajar, yaitu semester atau catur wulan tergantung kondisi dan situasi, tetapi yang sering dipakai adalah semester.

Waktu di dalam semester (6 bulan), tidak hanya digunakan untuk belajar saja, tetapi sebagian waktunya juga untuk : pengurusan administrasi persiapan kuliah, ujian, dan liburan. Biasanya waktu untuk belajar di dalam satu semester berkisar di antara 14 sampai 16 minggu.

Banyaknya usaha untuk belajar ditakar dengan satuan beban atau bobot belajar, yang diukur dalam waktu yang disebut satuan kredit semester ( sks ), sedangkan untuk satu semester, biasanya terdiri kurang lebih 18 sks.

Untuk lulus menjadi sarjana, mahasiswa dituntut untuk lulus sebanyak 144 sampai 160 sks. Dengan sks sebagai satuan bobot belajar, maka setiap mata kuliah mempunyai bobot sks, ada yang 2 sks, 3 sks, atau 4 sks, tergantung jenis program studinya.

Seorang mahasiswa harus menyusun rencana belajarnya untuk seluruh kegiatan belajarnya selama satu semester ke dalam suatu kontrak, sehingga dapat memperkirakan kapan akan lulus.

Secara administratif, rencana dan kontrak belajar tersebut dicatat ke dalam suatu dokumen, yang disebut Keterangan Rencana Studi ( KRS ) Semester, dan mahasiswa hanya menempuh pelajaran yang tercantum ke dalam KRS tersebut.

Penilaian atau evaluasi belajar di Perguruan Tinggi dilakukan melalui sejumlah cara meliputi penilaian terhadap pelaksanaan tugas dan penilaian melalui ujian. Di banyak Perguruan Tinggi, ujian dilaksanakan pada pertengahan semester atau dikenal dengan Ujian Tengah Semester (UTS), dan pada akhir semester atau dikenal dengan Ujian Akhir Semester (UAS).

Nilai evaluasi belajar merupakan gabungan dari semua jenis penilaian pada mata kuliah di dalam semester tersebut. Biasanya, Perguruan Tinggi menggunakan dua sistem penilaian yaitu penilaian berupa bilangan 0 sampai 100, dan berupa huruf A, B, C, D, E

Sistem bilangan 0 sampai 100 biasanya digunakan pada saat Dosen mengoreksi ujian mahasiswa, kemudian melalui aturan tertentu, bilangan tersebut ditransformasikan ke dalam bentuk huruf dari A sampai E, dimana A berarti Amat Baik, B berarti Baik, C berarti Cukup, D berarti Kurang, dan E berarti Gagal.

Apabila nilai hasil belajar dari semua mata kuliah digabungkan, maka disebut dengan istilah Indeks Prestasi (IP), dan Indeks Prestasi dalam satu semester disebut Indeks Prestasi Semester (IPS), sedangkan Indeks Prestasi dari awal masuk Perguruan Tinggi sampai semester terakhir disebut Indeks Prestasi Kumulatif (IPK).

Biasanya nilai hasil belajar dicatat dalam suatu dokumen yang disebut Keterangan Hasil Studi (KHS).

Pada saat semua mata pelajaran yang ditetapkan telah berhasil lulus, maka seorang mahasiswa telah mencapai kebulatan studi dan dinyatakan lulus dari program pendidikan. Dokumen yang mencatat seluruh hasil belajar mahasiswa dari awal sampai akhir program pendidikan dikenal sebagai transkip.

IPK juga sering dipakai sebagai dasar penerimaan karyawan di pegawai negeri maupun di perusahaan swasta, biasanya batas IPK nya adalah 2,75

Untuk mengukur kemampuan mahasiswa dalam menyelesaikan studi di Perguruan Tinggi, biasanya suatu Perguruan Tinggi memberikan batas masa studi bagi mahasiswanya, misalnya 14 semester untuk program pendidikan sarjana, bahkan ada Perguruan Tinggi yang menentukan batas masa studi pada semester tertentu, karena mahasiswa tersebut tidak memenuhi syarat yang ditetapkan, sehingga dapat terkena sanksi putus kuliah.

Chemistry Benchmarking Group di Inggris menguraikan bahwa ada 8 keterampilan yang perlu dimiliki oleh mahasiswa dalam menyelesaikan studi yaitu :

  • Keterampilan berkomunikasi
  • Keterampilan pemecahan masalah sehubungan dengan informasi kualitatif dan kuantitatif
  • Keterampilan bilangan dan komputasi
  • Keterampilan menemukan informasi ( information retrieval ) sehubungan dengan sumber informasi primer dan sekunder
  • Keterampilan teknologi informasi
  • Keterampilan antar pribadi ( interpersonal ) dalam hubungannya dengan orang lain
  • Keterampilan mengatur waktu dan berorganisasi
  • Keterampilan belajar untuk pengembangan profesional

PENTING : Kalau mahasiswa mempunyai keterampilan tersebut di atas, maka diharapkan dapat sukses dalam menyelesaikan studinya di Perguruan Tinggi dengan hasil yang optimal.

Categories: Perkuliahan
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: